Pintu Aceh dan Gramedia Gelar Diskusi Inspiratif

 

AF News- Banda Aceh: Sejak bergulirnya kemajuan teknologi dan informasi melalui  jejaring internet dan berbagai media social, telah  banyak menimbulkan masalah, terutama  penyebaran  informasi yang kerap melenceng dari fakta. Sehingga perlu dipersiapkan generasi cerdas dan handal dalam menyikapi berbagai persoalan yang muncul. Hal tersebut terungkap dalam diskusi Inspiratif Rivalitas Peran Intelektual Muda,  kerja sama Perhimpunan Intelektual Muda Aceh (Pintu Aceh) dengan Gramedia di Banda Aceh, Senin (28/10/2019)

Kegiatan yang bertajuk  ‘Saatnya Yang Muda Untuk Indonesia’ itu juga mengahdirkan sejumlah narasumber inspiratif seperti, Edi Fadhil, Hotli Simanjuntak dan Daudy Sukma.  Edi Fadhil dalam pemaparannya menyebutkan, ketika tersebar  sebuah informasi di media social  tentang sekolah rusak, rumah tidak layak huni atau  sejenisnya, biasanya para nitizen dengan mudah  lebih memilih untuk menyalahkan beberapa pihak ketimbang memikirkan solusi terbaik untuk membantu dan menyelesaikan masalah yang muncul. Padahal jika saat itu kita bergerak, mungkin sekolah rusak sudah terbantu, atau rumah yang tadinya tidak layak huni pun menjadi bagus kembali. Terkadang juga  berita itu belum tentu seratus persen benar,” paparnya.

Sementara Hotli Simanjuntak lebih menekankan untuk berhati-hati dalam memanfaatkan media social. Dikatakan,  langkah terbaik untuk menghindari hoak yang tersebar di internet, adalah dengan mempelajari  sumber informasi dan mengali fakta yang sebenarnya. “Hati-hati dengan jempol mu, kita sering menjadi latah di internet, tanpa berfikir Panjang kita dengan mudahnya menyebarkan informasi apapun tanpa memeriksa fakta dan kebenaran. Padahal di era keterbukaan informasi ini, kita pun dengan mudah dapat menyaring semua informasi, terlebih  yang kita terima itu bersifat meragukan. Kita wajib melakukan perbandingan dari satu informasi dengan informasi  lain agar mudah melakukan verifikasi ulang,” ujar Hotli.

Penyebab lain mudahnya  tersebar hoaxs menurut Hotli, kurangnya literasi dari generasi saat ini, sehingga begitu mudah berita palsu tersebar tanpa ada niat untuk mencari tau kebenarannya. Bawaan dasar dari manusia sebut Hotli,  awalnya memiliki dua bagian otak, Crock Brain dan Cortex. Crock Brain kata dia hanya berbicara seputar bertahan hidup, atau juga berkembang biak, namun kemudian berevolusi menjadi pemikir, untuk memilah dan memilih sebuah keputusan apakah itu baik untuk kita dan orang lain atau tidak.

Acara yang dikemas dengan peringatan Sumpah Pemuda itu juga dihadiri oleh sejumlah generasi muda dari berbagai elemen. Selain membahas tentang penyalah gunaan media social, kegaitan yang menghabiskan waktu satu hari itu juga membahas tentang mengelola usaha melalui media social, sehingga anak muda dapat memanfaatkan media sosial dengan cara positif demi mengembangkan usahanya. (**)

 

 

Apa Komentar Anda?