Silat Tradisional ‘Harimau Hitam’ Tarik Perhatian Wakil Ketua Koni Aceh

Perguruan harimau Hitam

Perguruan harimau Hitam

AF News – Aceh Besar: Olahraga silat tradisional yang sudah lama hilang,  ternyata masih  dikembangkan di pelosok-pelosok desa. Gampong Reudep, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar satu diantaranya.

Ditempat itu, olahraga bela diri kuno tersebut masih sangat diminati, terutama kalangan remaja. Gerakan dan jurus-jurus yang diperagakan tak kalah manarik dibanding seni bela diri modern yang sudah jauh berkembang.

Disambangi AF News, Jum’at, 14/9/2018) malam,   perguruan silat yang diberi nama ‘Padepokan Harimau Hitam’ itu,  terlihat sederhana. Sebuah gubuk kecil berkontruksi kayu ada ditempat itu, di sampingnya tampak sepetak tanah kosong yang diberi atap terpal plastik berkerangka kayu dan bambu. Di atas tanah itu, dilapisi dengan debu halus yang tebalnya mencapai 10 centimeter, luasnya berkisar 15 hingga 20 meter persegi.

Ditempat itulah,  puluhan murid perguruan Harimau Hitam berlatih olah kanoragan. Semuanya masih berusia remaja, dengan gerakan-gerakan yang fenomenal mereka terus melancarkan pukulan-pukulan yang mematikan.

Perguruan itu didirikan oleh seorang pesilat legendaris yang namanya sudah tersohor. Namanya Cut Hab, meski usianya sudah tidak muda lagi, namun gerakan silatnya pantas diperhitungkan. Betapa tidak, dalam dua jurus, Cut Hab mampu melumpuhkan tiga orang lawan sekaligus.

Pria kelahiran Montasik itu  mengaku, perguruan yang sudah dirintis puluhan tersebut, sudah melahirkan ratusan jawara siap tanding.  Bahkan tak sedikit yang sudah merintis perguruannya sendiri. “Memang ini silat kampung, tapi kemampuan bela diri silat ini juga tidak kalah dengan ilmu bela diri yang ada di kota-kota,” kata Cut Hab.

Menurut Cut Hab, perguruan itu didirikan bukan bertujuan pamer ketangkasan. Selain untuk melatih bela diri,  juga ikut melestarikan kembali tradisi kebanggan masyarakat Aceh yang sudah lama punah.

Pantas saja, untuk masuk ke perguruan itu kata Cut Hab, tidak dipungut biaya yang tinggi, hanya sekedar uang  poding dan makan- minum usai berlatih, itupun dinimakti bersama-sama. Demikian Cut Hab.

Wakil ketua I Komite Olahraga Nasioanl Indonesia  (KONI) Aceh, Ir. H. Musa Bintang, MM yang kebetulan berada di tempat itu, secara khusus memberikan apresiasi kepada perguruan Harimau Hitam. “Ini adalah bahagian dari tradisi masyarakat Aceh yang sudah turun temurun. Kita pantas bangga, masih ada orang yang mau melestarikan olahraga ini.” pungkas Musa Bintang. (Ali)

 

 

Apa Komentar Anda?