SOMADA Abes: Cukup Dua Tokoh Pendidikan Aceh Besar Yang Terbunuh, Jangan Tambah Lagi

AF News – OPINI:  Pada waktu konflik bersenjata antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)  dua guru besar  Aceh Besar Yaitu, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN Ar-Raniry)  Prof. Dr. H. Safwan Idris dan Prof. Dr. H. Dayan Dawood Rektor  Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) telah dibunuh secara sadis  dengan peluru tajam.

Sekarang,  giliran mantan Rektor Unversitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi MA. Pernyataan Hasanuddin Yusuf Adan dalam opini Serambi Indonesia  yang berjudul Tumbangnya ‘Pohon Besar’ di UIN Ar- Raniry,  tanggal 3 Juli 2018 adalah upaya pembunuhan karakter tokoh pendidikan Aceh Besar dan pembusukan tehadap individu.

Penghinaan yang dilontar kepada Prof. Dr. Farid Wajdi oleh Hasanuddin Yusuf telah memancing gejolak konflik baru di dunia pendidikan. Kesan dari tulisan itu adalah, Farid Wajdi adalah tokoh yang diktator dan sombong,  yang dengan keangkuhannya telah merusak tatanan pendidikan di kapus UIN Ar – Raniry.

Sangat naif dan tidak beretika ketika seorang Hasanuddin Yusuf yang juga seorang Ketua Dewan Dakwah Aceh yang bergelar Dr, Tgk, MCL, MA mengeluar opini yang mengarah kepada terbukanya peta konflik baru di dunia pendidikan.

Dia telah beretorika dengan berbagai dalil-dalil Al-Quran dan Hadist. Dia sendiri kemudian melupakan bahwa, inti dakwah adalah untuk menciptakan kedamaian dan mendinginkan suasana yang memanas, tapi dalam opini dia itu malah semakin memancing suasana menjadi keruh.

Seorang pendakwah seharusnya menjadi panutan bagi ummat, bukan kemudian menjadi permusuhan ummat akibat ucapan yang disampaikannya. Dakwah adalah perkara besar yang agung dan utama, tak sebanding dengan segala perkara lain yang ada di dunia. Alloh subhanahu wa ta’ala mengutus ribuan nabi dan rosul hanya untuk perkara ini saja. Berdakwah di tengah-tengah umatnya, membacakan ayat-ayat-Nya, membangkitkan jiwa-jiwa, memberi petunjuk kepada manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan menjelaskan kebenaran kepada mereka. “ Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”  (QS. al-Jumu’ah [62] : 2

Allah subhanahu wa ta’ala  telah menjadikan dakwah sebagai solusi permasalahan umat dari zaman ke zaman. Jika kita mentadabburi al-Qur’an, sebagian besar isinya bercerita kisah-kisah dakwah dan bagaimana cara para nabi dan rasul menyatukan perselisihan ummat melalui dakwah- dakwahnya. Oleh karena itu, umat ini wajib mengambil dan memikul tugas dakwah, sebagaimana dulu para sahabat Rasulullah melaksakannya.

Dengan kejadian ini Hasanuddin Yusuf sudah mencoreng dunia dakwah dengan ajaran kebencian dan menanam bibit permusuhan di kalangan kampus. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi, karena akan mengakibatkan lahirnya generasi-generasi yang apatis terhadap tokoh -tokoh pendidikan.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan  seorang Farid Wajdi sebagai manusia biasa, patut diberikan penghargaan terhadap jasanya selama memimpin. Tidak perlu kemudian dihancurkan dengan opini yang menyesatkan. Jika pun kemudian ada kekurangan-kekurangan adalah menjadi tugas pemimpin baru untuk menyempurnakan yang lebih baik lagi.

Intinya, Prof. Dr. Farid Wajdi telah banyak berbuat di UIN Ar- Raniry. Hendaknya semua pihak dapat melihat ini secara objektif dan profesioanl. Jika pun tidak layak diberikan penghargaan yang lebih, tapi jangan pula dihina dengan perkataan yang dapat merusak citra kepemimpinan dan bidang ilmu yang melekat padanya.

 

Aceh Besar, 3 Juli 2018

 

Ketua Umum                                                                                      Sekretaris Umum

Abd. Haris Piyeung                                                                                           Khalezar.

Apa Komentar Anda?