Sekum SOMADA: Pendidikan Terpadu Tak Matikan Balai Pengajian

AF News – Aceh Besar: Keberadaan program pendidikan terpadu yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Aceh Besar tidak perlu dikhawatirkan yang berlebihan. Justeru sistim pendidikan terpadu ini akan berdampak pada semakin hidupnya balai-balai pengajian.  Karena anak-anak tidak dimestikan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah formal, akan tetapi juga dapat mengikutinya di balai-balai pengajian atau pesantren terdekat.  Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Aceh Besar (Somada) Abes Khalezar, Senin (2/7/2018).

“Sistem Pendidikan Terpadu (SPT) yang diprogramkan pemerintah kata Khalezar,  adalah pendidikan yang dilaksanakan pada jenjang Sekolah SD dan SMP dengan menerapkan keterpaduan kurikulum nasional dengan  pendidikan agama yang  dilaksanakan  selama enam hari dalam satu minggu. Pelaksanaannya pun tidak mesti di sekolah umum, dapat juga dilangsungkan dibalai pengajian dan pesantren,” Kata Khalezar.

Sistem Pendidikan Terpadu ini lanjut dia, kegiatan yang dimulai pada sore hari mulai dari kelas 4-6 SD dan Kelas 7-9 SMP dengan kurikulum muatan lokal yang memuat pelajaran agama misalnya seperti, Diniyah (ada Fiqih, Al-Qur’an/Hadist, Akidah Akhlak, SKI, Praktek Ibadah) kemudian ada Tahfidz Al Qur’an ( Min. 1 Juzz SD, 2 Juzz SMP) ada juga Minat Bakat (Seni dan Olahraga) kemudian ada Bahasa Asing/Daerah, Pengembangan Kreatifitas (Kepramukaan, dll) sebagaimana jadwal yang diterapkan. Pada pagi hari mereka tetap menjalankan sebagaimana pelajaran umumnya sesuai kurikulum nasional, hanya  ada sedikit penambahan yaitu, anak-anak disunnahkan untuk mengerjakan shalat dhuha pagi harinya.

Yang perlu dicatat sebut sekum Somada,  program ini tidak diwajibkan untuk  pesantren-pesantren, karena  hanya untuk sekolah umum itupun tidak semuanya. Program ini juga tidak akan mempengaruhi pada berkurang  anak didik di  TPA/TPQ, karena khusus untuk anak-anak yang mengaji diluar sekolah pada sore hari. Oleh sebab itu dia berharap agar masyarakat dan pengurus balai-balai pengajian tidak  meragukan program ini. Konon lagi kata Khalezar,  para pakar dan pemikir pendidikan serta sejumlah  cendikiawan  telah mengkaji dengan baik program ini.

“Sebagaimana kita tahu dalam kehidupan bermasyarakat, lingkungan sosial yang dihadapi anak-anak menjadi faktor utama dari timbulnya masalah sosial, seperti narkoba merajalela, warung internet bermain game bahkan diwarung wi-fi, berkeliaran tidak jelas, dsb. Belum lagi menjawab tantangan global dizaman serba canggih dan serba online ini tentu sudah semakin mudah mereka akses, apabila semua ini luput dari perhatian kita bersama maka krisis moral akan terjadi lalu kemudian tunggulah kehancuran yang menghampiri generasi-generasi muda kita kedepan,” Tutup Sekum Somada Abes. (**)

 

Apa Komentar Anda?