Karena Pohon Besar Itulah, UIN Ar-Raniry Menjadi Besar

Oleh: Ulul Azmi – Ketua Umum  Pengurus Pusat  Himpunan Mahasiswa Aceh Besar (PP-HIMAB)

_______________

 

Opini ‘Tumbangnya Pohon Besar  di UIN Ar-Raniry’ merupakan gambaran ketidakmampuan pohon kecil  untuk tumbuh layaknya pohon besar itu. Padahal tanah cukup subur, semua pohon berpotensi besar. Kecuali  pohon-pohon yang tidak mampu meresap sumber pupuk yang dihasilkan oleh tanah.

Jika sebatang pohon tidak sanggup bertahan hidup diantara pohon besar, dia dapat merubah bentuk menjadi miniatur  (Bonsai) yang bernilai jual. Bukan kemudian, menghidupkan parasit untuk menumbangkan pohon besar.

Pohon besar,   jika dianalogikakan adalah  sebatang pohon yang  tumbuhan tinggi, mempunyai ranting banyak dan berdaun lebat. Pohon itu mampu memberikan kerindangan terhadap setiap mahkluk ciptaan Tuhan yang berteduh di sana.  Tak hanya burung, semua makhluk yang berpijak  di bumi  pasti  menikmati rindangnya pohon.

Buah dan daun yang dihasilkan oleh sebatang pohon selalu bermanfaat untuk makhluk lainnya.  Namun pohon itu tetap kokoh berdiri tegak untuk memberikan manfaat. Itulah hidup, proses yang harus terjadi untuk berlangsungnya suatu kehidupan yang saling melengkapi.

Sebatang pohon tidak akan besar dan kuat dengan sendirinya, proses perjalanan hidup yang sulit mesti dilalui,  seperti terpaan angin kencang, panasnya terik matahari, bahkan harus kuat menghadapi berbagai hama yang menebar beragam penyakit. Barulah sebatang pohon bisa tumbuh dan berkembang.

Jika diibaratkan, Prof. Dr. Farid Wajdi, MA,  adalah  pohon besar yang telah memberi banyak manfaat di Universita Islam Negeri (UIN) Ar- Raniry. Transformasi IAIN menuju UIN Ar-Raniry tidaklah mudah, tentu setelah melewati proses yang panjang dan berliku, proses dimana usaha memberikan pandangan yang visioner dan konsep yang matang serta relasi yang kuat menjadikan IAIN Ar-Raniry mencapai apa yang selama ini rakyat Aceh cita-citakan, yaitu bergantinya status menjadi UIN Ar-Raniry.

Bergantinya status itu tidak lepas dari peningkatan standar mutu pendidikan dan infrastruktur. Terbukti,  di UIN Ar – Raniry terjadi pembangunan infrastruktur yang sangat signifikan dan peningkatan mutu pendidikan yang patut diacung jempol. Itupun tidak gampang, ratusan milyar rupiah dana yang dihabiskan  untuk mewujudkan keberhasilam itu,  dan itula dilakukan oleh Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA.

Beliau menjadikan UIN menuju kegemilangan, karena keberhasilan itulah beliau harus dihadapkan dengan opini “Pohon Besar”, kata-kata ini sekilas menggambarkan betapa kagumnya rakyat Aceh terhadap prestasi yang diperoleh oleh Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA. Tidak hanya itu, rakyat Aceh juga harus berbangga dengan perkembangan UIN sekarang yang akan membangun UIN “B”.

UIN akan menjadi universitas besar dimasa mendatang berkah sumbangsih tenaga dan pikiran beliau. Tak salah memang jika diistilahkan beliau sebagai “Pohon Besar”, beliau besar untuk rakyat Aceh, hanya segelintir orang yang merasa tidak puas dengan keputusan maupun kebijakan yang beliau ambil. “Pemimpin” itulah kata-kata yang mampu disingkat untuk tidak semua puas, hanya segelintir orang yang merasa tidak puas namun mayoritas rakyat Aceh telah merasakan manfaat apa yang telah di lakukan oleh si “Pohon Besar” UIN Ar-Raniry.

Hibah/Bantuan IDB dengan nilai ratusan milyar pun ikut dipercayakan kembali pada masa jabatannya dalam kurun waktu yang singkat sejak beliau memimpin. Kepercayaan nasional pun ikut memperkokoh “Pohon Besar” itu, beliau terpilih sebagai Ketua Forum Rektor PTKIN se-Indonesia, tentunya ini menjadikan kampus jantoeng rakyat Aceh itu mempunyai kekuatan tingkat nasional.

Prestasi Badan Layanan Umum (BLU) pun sukses diraih oleh UIN Ar-Raniry, satu-satunya katagori universitas di Aceh yang mendapatkannya. Dan pada masanya, ditangan beliaulah ide serta konsep “pesantren-universitas” yang mengadopsi sistem pendidikan pesantren yang dipadukan dengan pendidikan universitas terbentuk dan kini telah berdiri untuk meningkatkan pendidikan keislaman serta karakter di Aceh dengan nama Ma’had Jami’ah.

Tak hanya itu, baru-baru ini berlakunya setiap lulusan wajib ikut tes toefl dan toafl sebagai bentuk penekanan penting belajar bahasa internasional pada lulusannya sehingga mampu berkompetisi di kanca internasional.

Itu semua dinilai dapat terwujud berkat kemampuan dan profesionalitas sosok Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA dalam menempatkan para ahli sebagai orang yang membantu dalam kepemimpinannya. Para ahli itu berasal dari keberagaman, keberagaman wilayah di Aceh bersatu untuk membangun UIN Ar-Raniry tercinta.

Itulah sederet kecil dari sekian besar sumbangsih Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA terhadap rakyat Aceh dan Nasional, itulah kerindangan “Pohon Besar” di UIN Ar-Raniry yang dianggap telah tumbang.

Nyata memang, nyata akan rumput yang hanya mampu bergoyang diterpa hembusan angin yang melihat kekokohan “Pohon Besar” sampai berdesing tak karuan, desingnya tidak menggambarkan kuatnya humbusan yang telah dikenal padanya. Desingan tanpa fakta itulah yang mampu dikembangkan oleh segelintir makhluk yang tidak mampu memperoleh keberhasilan.

Bagi rakyat Aceh “Pohon Besar” itu bukanlah tumbang, ia tetaplah pohon yang rindang walau tidak lagi berada di tanah yang dianggap telah subur itu. Ia tetap dihati rakyat Aceh, dimana merindukan pemikiran, konsep, nasihat dengan ketegasan beliau diatas mimbar dan gebrakan yang akan beliau lakukan untuk rakyat Aceh. Inilah Kerindangan “Pohon Besar” yang berada di hati rakyat Aceh. Terimakasih Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA telah memimpin dan membawa UIN Ar-Raniry menuju kegemilangan, dedikasimu tak pernah kami lupakan. Selamat datang Prof. Dr. H. Warul Walidin, AK, MA semoga cita-cita Rakyat Aceh dapat Bapak teruskan dalam memajukan UIN Ar-Raniry kedepan.

Apa Komentar Anda?