Senja Menggoda di Pulo Aceh

AF-News. Aceh Besar: Bagi anda yang suka melancong,  tak salahnya jika mencoba singgah di sebuah  pulau yang  terletak sebelah utara dari Kota Banda Aceh. Namanya Pulo Aceh, meskipun berada dalam wilayah kabupaten Aceh Besar namun titik koordinatnya sangat berdekatan dengan Sabang.

Jika anda ingin bepergian, satu-satunya transportasi yang dapat mengantar anda sampai ke tujuan adalah dengan menggunakan kapal motor melalui Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh.

Boleh juga menggunakan pesawat terbang tapi jangan lupa bawa parasut untuk terjun payung. Atau boleh juga melalui  jalan darat dengan mempersiapkan potongan pohon kelapa secukupnya untuk jembatan.

Bila cuaca bagus dan ombak tenang, kapal motor yang anda tumpangi hanya butuh waktu sekitar satu jam perjalanan. Namun apabila kondisi cuaca carut marut,  maka anda akan terobang ambing di Samudera Hindia sampai dua jam bahkan lebih. Tapi saya tidak merekomendasikan anda meninggalkan wasiat pada saat perjalanan cuaca buruk.

Perjalanan pada saat laut tenang anda akan menikmati pemandangan yang tak biasa. Sejauh mata memandang, hamparan Samudera Hindia nan biru seakan memanjakan anda enggan berkedip. Perahu nelayan dan burung camar yang menyambar ikan di permukaan air membuat anda terpana tak berdaya. Bila anda bernasib baik, sesekali terlihat gerombolan lumba-lumba yang bercengkrama di permukaan ombak.

Sepanjang pelayaran, anda akan menyaksikan gugusan pulau-pulau kecil bertebing indah dengan rimbun yang rindang. Tak hanya itu, percikan ombak yang memecah di bongkahan karang siap menghantarkan hanyal anda ke dunia lain. Jika anda suka mengabadikan gambar, jangan lupa mempersiapkan memori camera yang cukup. Karena di Pulau Aceh tidak ada penyedia jasa untuk itu.

Langit cerah, angin berhembus perlahan.  Kapal motor yang saya tumpangi mulai berjalan lambat,  beberapa penumpang terlihat sibuk mempersiapkan barang bawaan,  itu pertanda dermaga Pulo Aceh sudah dekat. Benar, tak jauh dari itu terlihat sebuah dermaga kecil yang sederhana. Tepatnya  di desa Lampunyang, meskipun itu tak semegah pelabuhan Tanjung Periok atau Belawan, namun tempat itu cukup untuk bersandar beberapa kapal motor ukuran sedang.

Tak ada taksi atau kenderaan khusus yang menjemput di dermaga. Hanya kenderaan roda dua yang digunakan untuk jasa ojek. Tarifnya tergantung jarak, namun masih terjangkau oleh ekonomi pas-pasan. Keluar dermaga saya langsung bertransaksi ongkos dengan tukang ojek.  Usai tawar menawar sayapun langsung tancap dengan kuda besi itu.

Kondisi jalan tak bagus, selain ukurannya yang sempit, dibeberapa badan jalan sudah terlihat rusak dan tak terurus. Namun untuk kenderaan roda dua  masih nyaman untuk dilewati. Tapi si tukang ojek tak boleh lengah, sedikit saja salah elak langsug berhadapan dengan lubang jalan dan disambut oleh parit beton.

Sepanjang jalan kecil itu, saya disuguhkan oleh panorama yang memanjakan pandangan. Hamparan pasir putih di sepanjang pantai dan rimbun-rimbun kecil membuat saya tak kuasa menahan kagum. Saya tak peduli lagi dengan ojek yang jalannya kadang-kadang sudah seperti rodak petak, yang penting saya sampai di tujuan karena hari sudah menjelang sore.

Kurang dari satu jam perjalanan setelah melewati beberapa desa, sampailah saya di sebuah desa kecil yang bernama Blang Situngkoh. Sebuah desa yang terletak di kaki bukit dengan cuaca yang sangat sejuk. Saya singgah di rumah warga yang sering disewakan untuk tamu.

 

Setelah menyimpan barang bawaan saya bergegas ke tepi pantai, jingga senja telah menunggu. Mentari semakin condong ke ufuk barat, semburan sunset membuat pemandangan alam bak dikepung sinar emas yang merah menyala. Saya tak ingin momen penting itu hilang ditelan kaki langit. Dengan camera canon D3200 i saya langsung mengabadikan beberapa gambar yang sedap dipandang.

Arloji hampir menunjukkan pukul tujuh sore, sang surya semakin condong ke ufuk barat.  Saya meninggalkan pemandangan itu setelah mentari bersembunyi di balik bukit. (Ali)

Apa Komentar Anda?