Budaya Megang Tradisi Keliru?

 = Muhammad Ali= 

Aceh dikenal dengan kekayaan adat dan budaya, satu diantaranya adalah  hari megang atau uroe makmeugang. Disebut dengan meugang karena pada hari itu  adalah waktu berkumpul  dengan keluarga, orang dekat, orang tua, istri, anak atau sanak falimi. Hari megang lazimnya dilaksanakan pada H-1 dan H-2  jelang  masuknya bulan suci Ramadhan . Hal yang sama juga  berlaku saat menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Daging sapi atau kerbau adalah sesuatu yang tak boleh tidak di hari itu. Tanpa daging,  hari megang tak berarti apa-apa. Saat itu pula lah pedagang daging mendapat panen besar. Pasalnya, semua masyarakat menyerbu pasar daging untuk kebutuhan meugang. Sehingga hari itu, merupakan hari bermewah-mewah dengan masakan daging sambil bersenda gurau dengan sanak keluarga.

Akan tetapi, ada baiknya jika kita coba mundur sedikit dari pemahaman ini. Buat orang kaya atau orang yang berada  pastinya tak jadi masalah dengan hari megang. Karena persedian kebutuhan sudah tersedia jauh-jauh hari. Lantas bagaimana dengan orang miskin yang tak mampu?. Mendekati hari megang suasana gelisah mulai menyelimuti mereka. Belum lagi membayangkan harga daging yang terus menggila setiap tahun.

Tahun 2017 harga daging Rp.270.000/Kg, jauh meningkat dari tahun sebelumya Rp. 230.000/Kg di tahun 2016, Rp. 220.000/Kg di tahun 2015 dan hanya Rp. 150.000 pada tahun 2014. Kondisi inilah yang membuat si miskin harus banting tulang untuk mencari uang. Jika tidak, maka air matalah  yang akan jadi pengganti ketika dari rumah tetangga merebak aroma masakan yang menggugah selera.Konon lagi di rumahnya ada anak-anak yang belum mengerti kondisi ekonomi orang tuanya.

Jika ada yang mengatakan bahwa ini tradisi lama yang membudaya. Bahkan sejak dulu sampai sekarang belum ada yang mempermasalahkan hal itu. Jawabannya ya, karena kondisi dulu yang disebut itu jauh berbeda dengan sekarang. Dulu,  tatanan  sosial kehidupan masyarakat sangat tinggi, kemiskinan juga tidak kentara meski hidup lebih sederhana. Konon lagi daerah pedalaman atau  pedesaan, di sana, persoalan daging dan sembelih-menyembelih bukan sesuatu yang merisaukan menjelang megang. Karena, hampir semua orang punya ternak lembu atau kerbau.

Setiap tahun masyarakat  sudah mempersiapkan sapi piaraan untuk disembelih di hari megang. Pada hari megang mereka bergotong royong menyembelih sapi kemudian dibagi rata untuk semua kepala keluarga. Tidak gratis memang, namun untuk pembayarannya tersedia waktu yang sangat longgar. Si pemilik yang ternaknya disembelih pada hari megang  mencatat nama-nama warga yang mengambil daging. Kemudian tagihannya dipungut cicil seberapa mampu dibayar oleh warga yang mengambil daging itu. Waktu pembayaranpun tidak dibatasi, bahkan ada yang mampu melunasinya jelang megang berikutnya.

Ketika sekarang populasi kehidupan sudah berubah? Taraf hidup masyarakat? Tingkat kemiskinan? Kebutuhan? Lingkungan? (Bersambung…

Apa Komentar Anda?